Oct 8, 2008

Iedul Fitri


Minal Aidin Wal faizin, maaf lahir dan bathin...






Lebaran kali ini aku merasa paling buruk selama 10 tahun terakhir. Obat habis, sementara dokter obigin cuti berlebaran . Tanpa obat artinya aku mulai dari nol lagi. Betul saja..show nya makin deras dan menggumpal-gumpal.Sakiiit sekali sampai aku keringat dingin. 1 dan 2 Syawal, terpaksa diatasi Ponstan spy bisa terima tamu dan berkunjung ke sodara… Rasanya tersiksa harus bolak balik toilet. Rasa BAB tapi trus ngucurr. Hari ke 3 Syawal mood ku makin memburuk. Rasa tertekan, sedih dan marah.. aku bersembunyi di balik selimut seharian. Denger suara anak-anak becanda saja aku bisa marah. Gak bisa dibiarkan, aku berfikir cari dokter lain, laki-laki pun tak apa.
Jam 10 aku berangkat ke RS yang pasti dokternya tidak cuti berlebaran. Kalau nunggu dokter praktek kelamaan nunggu sore. Untung ada dokter obigin cewek. Langsung curhat dan USG ke 3..Hasilnya rahim aku baik2 saja..gak ada kista,myom atau endometriosis apalagi tumor…spt yg aku kuatirkan..Padahal dokter yang sebelumnya juga bilang bahwa aku baik-baik saja, hanya ketidak seimbangan hormone. Dasar akunya yg negative thinking, makanya jadi kek orang sakit parah, ampe badan kurus,lemes.Bikin kue pun jadinya ancur..Lapis Surabaya , selembarnya seperti bolu gulung siap digulung, saking tipisnya..black florest jadi brownies.

Alhamdulillah di dokter ke 3 menemukan cara mengatasi pendarahan ku yang pas. Aku liatin contoh obat yang diberikan dokter sebelumnya dan apa pengaruhnya. Terus aku diterangin juga pengaruh obat yang diberikan dokter ke 2 begini…bla.bla…. Aku sih gak peduli apa dan kenapa hal ini terjadi…untuk saat ini yang aku butuhkan haid ku berhenti..titik!

Akhirnya aku bisa normal kembali..Keliling ke daerah-daerah di Riau dengan suka cita. Mood yang baik, bisa senyum lebar dan menikmati apa yang dilihat, apa yang dimakan, dan tertawa geli mendengar lelucon ke 3 anakku…Its ME…..I’m coming.

Saat Iedul Fitri inilah momen paling tepat buat silahturahim dengan familjam yang tingga di daerah lain. Kami berangkat jam 6 pagi.dari Rumbai.memutar ke Pangkalan Kerinci…4 jam ke Siak.Padahal kalau dari Rumbai bisa 2 jam melalui Perawang. Karena takut antri di Penyebrangan kami milih memutar. Gak tau nya jalan pkln Kerinci rusak berat. Kiri kanan kebun sawit, jalan bergelombang dan lobang menganga..

Istana Siak sudah dipenuhi pengunjung. Tempat penitipan sepatu sudah penuh. Kami melihat dan menikmati sejarah dari benda-benda yang ditinggalkan. Kental sekali pengaruh Eropa pada kerajaan Siak. Hanya sedikit barang yang asli Melayu, seperti talam . Sementara perabotan makan, furniture, lampu gantung kristal sangat Eropa.Begitu juga dengan kendaraan yang terdapat pada foto-foto…ada kereta kuda, mobil …hamper saja aku berfikir…dari foto-foto yang dipajang, bahwa yang kulihat adalah kerajaan Belanda..bukan Sultan Siak…Soalnya ada yang bernama datuk long putih wajahnya campuran Eropa. Dan juga ada foto suaminya artis Lyra Virna (Erik…..) sebagai keluarga penerus kerajaan Siak..Tapi kok berwajah Arab ya Sultan Syarif Kasim dan Permaisuri adalah melayu asli..Konon Istri terakhir Sultan adalah wanita keturunan Arab. Tapi mereka tidak dikaruniai putra.Sepeninggal Sultan, jandanya menikah lagi dengan pria Arab dan puny a beberapa anak. Sultan sendiri tidak punya anak dari semua istrinya karena konon( lagi) beliau di vasektomi.Walahualam

Dari Siak kami ke Sungai Apit, menghadiri pernikahan anak sepupu suami..Disana kami sudah punya cucu.ponakan saja ada yang seumuran dengan ku..Mereka (ponakan) memanggilku kakak bukan tante..Makanya yang jadi cucu bingung harus panggil apa… OMA? Atau NENEK? …hihi..bikin Fira ngamuk maminya dipanggil nenek.
Perjalanan ke Buton, balik lagi ke Sungai Apit, menyebrang Feri ke Beng kalis. Perjalanan ini hamper sama saja hanya ada sawit, jalan berdebu plus berlobang dan pipa minyak sepanjang jalan.Bebeberapa kali nyebrang sungai dengan Feri…ah Riau masih jauh…untuk daerah minyak se kaya ini, masih jauh dari maju. Tak ada penerangan jalan, jalan –jalan rusak, tak punyan mbatan (kecuali jembatan 2 M nya). Pulangnya kami ambil jalur Perawang lebih cepat. Baru saja keluar feri kami dihadang hujan lebat dengan petir sambung menyambung.Kasihan Faiz ketakutan. Kami semua cemas, berpapasan dengan truk gede ngangkut kayubalak ke Pabrik Kertas Indah Kiat. Eh di Rumbai-Pekanbaru malah ga hujan.










1 comment:

Keke Naima said...

alhamdulillah semua berakhir dengan menyenangkan ya mom...