Jan 29, 2008

Waktu Tlah Tiba


Sejak diberitakan sakit sejak awal Januari lalu, kami sibuk tebak-tebakan akankah Pak Harto sudah meninggal atau belum. Waktu diberitakan kritis itu sy sudah yakin kalau Pak Suharto saat itu sudah “meninggal”. Apalagi kesibukan di Astana Giri Bangun sangat mencurigakan. Sehebat apaun penagkal kematian untuk Pak Harto, siapa yang bisa menunda ketetapan dari Allah yang Maha Kuasa. Di TV terlihat banyak masyarakat yang mendoakan kesembuhan beliau, lalu ada dukun dukun gaek yang melakukan ritual mengusir maut........ yang paling penting itu adalah melihat kenyataan bahwa ....”saat nya sudah tiba”.......apalagi?

Teringat, sejak pertama mengenal pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Presiden Indonesia yang perlu dihapal Cuma 2 yaitu Soekarno dan yang ke 2 Soeharto ...dari mulai SD sampai tamat kuliah presidennya itu –itu saja.

Rasanya tahun-tahun 80 an itu aman-aman saja, menurutku yang pada waktu itu masih abg. Apalagi sebagai anak pegawai negeri selalu mendukung kebijakn-kebijakan pemerintah tapi lebih banyak lagi tidak terlalu peduli siapa presiden, apa yang terjadi dengan harga bahan pokok..Semuanya serba tentram. Dikota kecil Bukittinggi, era 75 -90 yang menjadi orang kaya selama bertahun-tahun juga itu –itu saja orangnya, yaitu golongan saudagar, pejabat dan tuan tanah (harta pusako). Beda dengan sekarang, tiap orang mudah menjadi kaya. Jumlah golongan elit sudah tidak terhitung lagi...dan selalu ada orang kaya baru.
Baru ngeh dengan pemerintah saat itu seperti peristiwa tanjung Priok yang memilukan, para petrus bergentayangan, banyaknya orang hilang serta DOM di Aceh. Setiap pelajaran Teori Akuntansi kami selalu disemangati oleh dosen bahwa kita perlu mebuat pembaharuan dsb...dsb

Tapi kenapa sampai 30 tahun betah jadi presiden ? apa gak bosaan? Lalu knp juga ribut soal hartanya Bambang sampai 14 trilyun, lha jadi anggota DPR 5 tahun saja mobilnya digarage bisa 5 apalagi bapak e presiden 32 tahun.................ck..ck...ck

Yang paling berkesan adalah ketika terjadi demontrasi mahasiswa Mey 97, seluruh Indonesia terguncang, berkumandang istilah moneter dikalangan ibu – ibu RT diwarung-warung, pasar, sembako melambung, nilai Rupiah merosot. Saat itu banyak yang menjadi pakar ekonomi dan istilah perekonomian jadi familiar dibicarakan. Usaha – usaha banyak yang gulung tikar termasuk usaha suami. Aduh rasanya pedih sekali hari-hari melihat suami sering melamun, tidurnya gelisah, ga selera makan. Rasanya mungkin seperti hari-hari setelah berkabung atas kehilangan orang yang paling kita cintai. Berat sekali... bulan –bulan berikut kami mau makan apa lagi, setelah tidak ada penghasilan.

Tapi Allah Maha Pemurah, saat aku melamar pekerjaan ke sebuah kontraktor minyak di Minas, aku langsung diterima. Tanpa tes, hanya wawancara seperlunya dan besoknya mulai bekerja. Berangkat dari rumah jam 6 pagi dijemput mobil perusahaan pulang jam 18:00 Isinya bapak-bapak yang mandah semua. Wah ngeri juga. Apalagi kantor yang letaknya ditengah hutan, ibarat perawan disarang penyamun... karena ingat keluarga, makanya aku usahakan bertahan. Tapi hanya 2 bulan disana akhirnya pindah ke tempat yang lebih kondusif sampai sekarang. Perlahan , usaha suami pun mulai bangkit ....tapi kenangan Soeharto dan Mey 2007 seperti zat kimia yang mengendap didalam darah.

No comments: